Urgensi Sabar dan Keutamaannya
Sabar adalah konsekwensi logis yang harus dilakukan oleh orang yang mendambakan pa yang dicita-citakannya, terlebih lagi bagi mereka yang mendambakan kebahagiaan dan keselamatan di akhirat.
Dalam Al-Qur’an maupun hadist Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam dijumpai banyak keterangan tentang kautamaan sabar. Antara lain firman Allah di dalam Al-Qur’an, "Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." [QS Az Zumar[39]:10]
Dalam ayat lain Allah berfirman: "…Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar."[QS An-Nahl [16]:126]
Al Bukhari & Muslim meriwayatkan sebuah hadist dari Abu Sa’id Al Khudri Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Barang siapa berusaha bersabar, maka Allah akan memberikan kesabaran. Dan tidaklah seseorang diberi anugerah yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran."
Al Bukhari & Muslim juga meriwayatkan sebuah hadist dari Aisyah radhiyallaahu anha bahwa Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Tidaklah seorang mu’min ditimpa suatu musibah melainkan Allah akan menghapuskan (dosa-dosa) darinya hingga duri yang melukainya."
Al Bukhari meriwayatkan sebuah hadist dari Abu Hurairah radhiyallaahu anhu bahwa Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Allah subhaanahu wa ta’ala berfirman:’Tidak ada balasan bagi hamba-Ku yang mukmin, yang ditinggal mati oleh orang yang terkasih di dunia, kemudian dia mengikhlaskannya selain surga’."
Maksud orang "yang terkasih" di sini adlah seperti anak, saudara dan semua orang yang dia cintai.
Di antara keutamaan-keutamaan sabar adalah:
a. Mengingatkan seorang hamba akan dosa-dosanya. Berawal dari sini diharapkan seseorang akan bertaubat dan kembali kepada Allah subhaanahu wa ta’ala. Sebagian ulama salaf berkata: "Seorang hamba menderita sakit, kemudian ia mengingat dosa-dosanya, maka sesuatu yang menyerupai kepala lalat keluar darinya karena rasa takutnya kepada Allah, kemudian Allah mengampuni dosanya."
b. Tampaknya kelemahan, kehinaan dan ketidakberdayaan seorang hamba di hadapan kekuasaan Allah, meskipun secara lahiriyah ia tampak kuat dan sehat.
c. Memperbanyak doa dan ketundukkan kepada Allah. Dalam sebuah atsar dinyatakan, "Sesungguhnya Allah memberi ujian kepada hamba-Nya dan Dia senang mendengarkan suara rintihan hamba-Nya."
d. Menghadapkan diri secara total kepada Allah, tidak kepada selain-Nya, baik makhluk maupun hawa nafsunya.
e. Melembutkan hati dan memperbaiki budi pekerti, karena bencana dan malapetaka dapat melembutkan hati orang yang berwatak keras dan melemahkan hati orang yang kuat.
f. Mengetahui kadar atau nilai sebuah kenikmatan. Seseorang akan mengetahui kadar dan nilai sebuah nikmat manakala nikmat tersebut telah hilang darinya. Seseorang baru akan merasakan besarnya nikmat sehat manakala ia telah terbaring lemah di ranjang.
disalin dari syrah kumpulan hadist shahih tentang wanita - isham bin muhammad asy-syarif
- Nasihat | Time: 11:07 am (UTC+8)
|||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||||
